Sejarah

SEJARAH FORENSIK

Di Surabaya, kedokteran forensik ada sejak adanya dokter. Karenadokter harus bisa membuat visum et repertum, maka di saat itu tentu juga ada prinsip-prinsip dasar kedokteran forensik. Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegai FK Unair berusia sepanjang pendidikan dokter di Surabaya itu sendiri. Awalnya bernama Gerechtelzjk Gene “handleiding bij opsporen en onderzoeken van strafbarefeiten in Indie… memberi panduan dalam hal penyelidikan dan penyidikan tidak pidana di Indonesia…” bertempat di RS Simpang Surabaya awali kemerdekaan muncul nama “Kedokteran Kehakiman hingga tahun 1996, kemudian diganti dengan Ilmu Kedokteran Forensik, tambahan kata medikolegal baru muncul tahun 2007, sebagai konsekuensi memasukkan bahasan medical law tahun hukum kedokteran sebagai salah satu bidang yang diajarkan.
Pada mulanya ada tiga staf pengajar yang seluruhnya orang Belanda yaitu: ].H. Smith, Dr. H. Moeller, dan Dr. M. Duyster. Staf pengajar bumiputera pertama kali ada pada tahun 1925, yaitu Prof. Mas Sutedjo Mertodidjojo, kemudian Dr. Nyowito Hamdani pada tahun 1959 dan Prof. Dr. Haroen Atmodirono pada tahun 1962. Gerechtelnk Geneeskande pada masa NIAS, diajarkan pada semester V dengan beban 3 SKS dan pada semester VI dengan beban 1 SKS, sedangkan pada Co-schap (Co-Assistentschappen) diberikan selama 3 minggu.
Pada awalnya Co-schap Ilmu Kedokteran Kehakiman hanya diikuti oleh dokter muda Fakultas Kedokteran Unair, hingga tahun 1972 mulai ada dokter muda dari FK Universitas H Makassar yang ikut sebagai peserta Co-schap. Seiring dengan mulai munculnya FK pada Universitas Swasta, berturut turut kemudian dari FK Trisakti Iakarta, FK UKI Iakarta, dan FK Universitas Tarumanegara Iakarta ikut sebagai peserta Co-schap, dikarenakan fakultas kedokteran tersebut tidak memiliki departemen Kedokteran Kehakiman. Di masa sekarang ini dokter muda dari luar FK Unair yang menjalani Kepaniteraan klinik di Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal berasal dari: Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, FK Universitas Hang Tuah Surabaya, FK Universitas Jember, dan Pattimura Ambon.
Ilmu Kedokteran Forensik di Surabaya berdiri seiring dengan berdirinya NICA dan CBZ Simpang. Yang menarik, ruang untuk laboratorium kedokteran forensik diletakkan di ujung paling belakang di era CBZ Sirnpang hingga di RSUD Dr. Soetomo. Pada era awal kemerdekaan, istilah yang dipakai adalah Kedokteran Kehakiman dan dalam satu sistem organisasi dengan Patologi Anatomi. Pada 1960, diadakan pemisahan. Patologi Anatomi lebih mengutamakan pasien hidup. Kedokteran Kehakiman lebih mengutamakan pasien mati. Menjelang pemisahan, tiga ahli dikirim untuk belajar di University of Calyornia di Los Angeles. Setelah menjadi Laboratorium Ilmu Kedokteran Forensik, pengiriman tenaga ahli ke luar negeri semakin sering dilakukan, antara lain ke Ierman dan Australia. Namun, jumlah guru besar maupun tenaga ahlinya masih dirasa kurang dibanding laboratorium lain. Meski demikian, kedokteran forensik FKUA punya prestasi lumayan bagus. Misalnya; rnelakukan otopsi atas kasus jagal manusia pada 1963, mengotopsi korban kecelakaan pesawat Albatros milik AURI di gunung Arjuno pada 1963, dan hanya butuh waktu sekitar satu minggu untuk melakukan identiiikasi atas 40 korban tabrakan bis pada 1980. Yang sangat terkenal adalah otopsi kedua atas jasad Marsinah pada 1990-an. Iuga atas kasus mayat terpotong yang potongannya dibuang ke beberapa tempat. Kemudian, laboratorium ini juga rnembantu identifikasi korban bom Bali. Kasus besar lainnya adalah identiiikasi puluhan korban longsor di Pacet.
Di bidang penelitian, Departemen Ilmu Kedokteran Forensik melahirkan buku panduan dan karya ilmiah. Bekerjasarna dengan Polda Iatim, terbit buku Kedokteran Kehakiman oleh Dr. Njowito dan Dr. Hanclry Kurniawan pada 1972. Juga bekerjasama dengan kepolisian, terbit buku Ilmu Kedokteran Kehakiman karya Prof M. Soetedjo pada 1962 dan diterbitkan ulang oleh Gramedia pada 1972 dengan beberapa perbaikan. Untuk pengabdian masyarakat, Departemen ini bekerjasama dengan berbagai pihak dalam urusan otopsi hingga pembongkaran kuburan, serta menjadi saksi di pengadilan.

Perkembangan Ilmu Forensik
– Gerechtelijk Geneeskunde (1913 – 1950)
– Ilmu Kedokteran Kehakiman (1950 – 1996)
– Ilmu Kedokteran Forensik (1996 – 2007)
– Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal (2007- sekarang)

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal merupakan bidang ilmu yang tidak banyak diminati oleh lulusan dokter, terbukti bahwa sejak tahun 1913 hingga sekarang, jumlah ahli di bidang tersebut tidak banyak bertambah. Dalam kurun Waktu seratus tahun tersebut, NIAS hingga sekarang FK Unair hanya dihasilkan 35 lulusan dokter ahli forensik. Pada awalnya kedokteran forensik bernaung di bawah organisasi profesi Ikatan Ahli Patologi Indonesia (IAPI) bersarna dengan patologi anatomi dan patologi klinik. Pada tahun 1986, diawali oleh patologi klinik, ketiga keahlian tersebut memisahkan diri dan membentuk organisasi profesi masing masing. Ahli kedokteran forensik membentuk Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI) sebagai organisasi yang menaunginya.
Beberapa tragedi nasional membuat nama kedokteran forensik sering disebut. Kasus pembunuhan aktivis buruh Marsinah, pembunuhan aktivis HAM Munir SH menggunakan racun Arsen serta pembunuhan-penibunuhan bermuatan politik Iainnya. Bahkan kasus pembunuhan Tan Malaka pun sedang akan diungkap. Identiiikasi korban bencana masal dan bom “terorisme” juga melibatkan ahli forensik yang tergabung dalam tim DVI (Disaster Victim Identification).

Beberapa Divisi yang ada:
Divisi Etik-Medikolegal
Memperjuangkan penerapan etika dan hukum kedokteran dalam hubungan dokter-pasien.

Divisi Antropologi Forensik
Menerapkan antropologi ragawi khususnya osteologi untuk kepentingan peradilan.

Divisi Klinikal Forensik
Menerapkan Ilmu Kedokteran Forensik pada barang bukti orang hidup.

Divisi Sero-Biomelukuler Forensik
Melakukan identifikasi berdasar sidik jari DNA
Divisi Patologi Forensik

Menentukan sebab kematian berdasar perubahan perubahan
makroskopis maupun mikroskopis pada tubuh manusia. Aplikasi

Ilmu Kedokteran untuk Kepentingan Peradilan.
Divisi Odontologi Forensik
Melakukan identiiikasi berdasar bentuk, sususan dan perubahan perubahan pada gigi geligi manusia.